MENULIS TERNYATA TIDAK SULIT

Posted on Oktober 26, 2010

0


Oleh:GanjarTriadiBudiKusuma

Menulis bukan pekerjaan sulit. Buktinya semua orang yang telah lulus bangku SD dapat menulis. Jika lulusan SD saja mampu menulis, entah itu menulis kalimat surat, menulis puisi, menulis, cerpen, atau menulis apa saja, maka sejatinya kebiasaan menulis sudah melekat pada diri setiap orang. Menulis merupakan suatu kebutuhan. Setiap manusia butuh menulis, sebagaimana ia juga butuh berbicara. Menulis adalah bahasa gerak tubuh, sedang berbicara adalah bahasa lisan. Baik menulis ataupun berbicara, manusia membutuhkan peran otak sebagai pusat kendali apa yang dikehendaki oleh hati nuraninya untuk disampaikan kepada orang lain di sekitarnya. Masalahnya sekarang, mengapa kebiasaan menulis tidak menjadi sesuatu yang lekat dan orang dengan kita? Mengapa menulis dianggap sesuatu yang sulit ? Lebih ironis lagi, para guru sebagai agen pembaharuan dan agen pendidikan manusia seutuhnya, banyak yang “alergi” jika disuruh menulis.Untuk menjawab pertanyaan di atas dibutuhkan sikap bijak. Kita tidak dapat menyalahkan kepada sosok manusia berprofesi sebagai guru. Memang, realitanya para guru kita masih kecil sekali persentase kemampuan menulis tentang hal-hal ilmiah. Hal tersebut tercermin dari mayoritas guru berpangkat golongan IV/a atau Pembina, seakan-akan langkahnya terhenti untuk meraih pangkat golongan di atasnya. Salah satu alasannya, karena para guru tersebut “malas” untuk menulis karya tulis ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ataupun tulisan berbasis ilmu pengetahuan sesuai bidang studi yang diembannya.

Sikap Malas

Menulis adalah jantung dari proses pendidikan, karena hal pertama kali yang diajarkan oleh guru sejak dini kepada siswa-siswinya adalah menulis. Menulis pulalah yang mendasari kecerdasaran seseorang untuk akhirnya dapat membaca dan memperoleh ilmu yang tidak terbatas.Namun sayang sekali, dalam praktiknya kebiasaan menulis di kalangan pelajar mulai dari tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi terasa kurang. Kalau toh mereka diajar dan diajak oleh guru untuk menulis, baru sebatas tugas menulis puisi, cerpen, atau esai di dalam pelajaran Bahasa Indonesia ataupun pelajaran lain. Hal ini menyebabkan kemampuan menulis sebuah karya dari hasil pemikiran siswa relatif rendah, tidak prospektif, dan cenderung menjadi sebuah kebiasan yang monoton.Kebiasaan menulis yang ditindaklanjuti dalam bentuk mengikuti berbagai kegiatan lomba, merupakan cara efektif untuk mengasah kemampuan, keterampilan, semangat berkompetisi, sekaligus pendidikan nyata berwiraswasta. Karena dunia tulis menulis secara nyata terbuka lebar bagi mereka yang mau bekerja dan memperoleh penghasilan cukup menjanjikan. Hal ini seiring pertumbuhan industri pers ataupun media cetak dan media elektronik yang luar biasa pesatnya.Peluang untuk menambah penghasilan dari bidang tulis-menulis sebenarnya menganga, terbuka lebar. Sangat menjanjikan. Hanya saja masalahnya adalah bagaimana memulai suatu niat untuk menulis. Ya, tanpa niat yang kuat mustahil sebuah tulisan dapat diselesaikan dengan baik. Dari niat itulah seorang penulis memperoleh energi kuat untuk mengawali sekaligus mengakhiri sebuah tulisan secara utuh. Niat untuk menulis merupakan amunisi dahsyat untuk mematikan “musuh utama seorang penulis” yakni rasa malas. Rasa malas itulah yang selalu “mengalahkan sebelum berperang”, atau “ mengakhiri sebelum memulai”. Banyak orang ketika akan menuangkan ide di benaknya dalam sebuah lembar tulisan, tiba-tiba surut dan batal. Mereka sudah dibebani dan diracuni oleh kata-katanya sendiri: menulis itu sulit, tidak punya kalimat yang baik, tidak punya ide bagus, dan alasan lain.

Untuk membiasakan suka menulis, harus dimulai dari membiasakan semangat untuk mengawali dan mengakhiri dalam menghasilkan sebuah produk tulisan. Mengenai persoalan mutu apakah hasil tulisan itu baik atau kruang baik, janganlah dijadikan persoalan utama. Karena seiring seringnya latihan, perlahan namun pasti persoalan mutu tulisan akan membaik.

Kebetulan sejak SMA saya suka menulis, karena diajari oleh guru Bahasa Indonesia untuk rajin menulis apa saja. Ternyata nasihat itu benar, begitu lulus kuliah hingga detik ini banyak hal-hal besar saya peroleh dari kegiatan tulis menulis. Saya melakukan duplikasi kepada siswi-siswi saya (dari 1.200 siswa SMKN 2 Semarang, siswa pria hanya 24 orang) untuk rajin menulis, dan rajin mengikuti berbagai lomba menulis. Hasilnya tidak sia-sia, saya pernah membimbing siswi yang berhasil meraih Juara I lomba menulis di tingkat Kota Semarang, Juara I lomba di tingkat provinsi Jawa Tengah, dan terakhir Juara I lomba menulis esai tingkat nasional. Hadiahnya saya dan siswi tersebut diberi tiket terbang Jakarta – Sydney, Australia PP. Kami diberi fasilitas lux, mendapat uang saku setara Rp 10 juta untuk berlibur selama seminggu berkeliling di Australia. Saya telah menulis di 30 koran dan majalah di Indonesia, semua itu memberi penghasilan tambahan yang tidak kecil. Saya menulis buku biografi tokoh-tokoh di Semarang dan Jawa Tengah. Ternyata menulis dapat untuk lahan berwiraswasta. Peluang bisnis yang masih menganga lebar.

Mengajak anak untuk berani berkompetisi mengikuti berbagai lomba menulis merupakan contoh sederhana namun dapat menghasilkan hal-hal besar. Modal untuk mengikuti lomba tersebut relatif sederhana. Cukup membuka internet yang cuma Rp. 4000 per jam, untuk mengakses begitu banyak jenis lomba menulis, khususnya berskala nasional. Mulai lomba menulis esai, puisi, cerpen, hingga yang serius seperti lomba menulis karya ilmiah. Di sinilah tugas seorang guru pembimbing untuk memilihkan jenis lomba tulis yang tepat bagi siswa-siswinya. Kalau toh ada kesulitan untuk mencari data ataupun materi guna melengkapi isi tulisan, di internet itu pula seluruh kebutuhan kita akan terakomodir dengan baik. Semuanya tersedia. Cara mengirimkannya juga relatif muda dan murah. Jangan pernah takut untuk kalah, karena di balik kekalahan tersembunyi peluang kemenangan. Jangan minder, karena hal itu musuh utama yang harus diberangus.

Kehidupan ini berisi kompetisi, persaingan yang sehat untuk maju dan berkembang. Sejak dini para siswa-siswi kita harus dilatih, diajak, diarahkan untuk menjadi manusia-manusia yang terbiasa untuk berkompetisi. Dengan cara mengikuti berbagai lomba menulis. Setiap harinya kesempatan untuk mengikuti berbagai lomba menulis bertumpuk di halaman-halaman internet. Semua itu harus kita jadikan cara untuk mengasah pengalaman dan membidik peluang kemenangan. Karena hadiah uang dalam jumlah besar, biasanya selalu dijanjikan bagi mereka yang berhasil menang. Kalau ada tidak percaya, saya sudah berkali-kali membuktikannya. Kalau saya bisa, anda pasti lebih dari bisa. Begitu bahagia ketika saya bersama anak-anak terbang menggunakan pesawat udara untuk mengambil hadiah kejuaraan, begitu nyata kisah ini, dan begitu pula anda dapat melakukannya.

Dukungan Institusi

Guru, apapun pangkat, golongan, status, haruslah menjadi agen penghasil tulisan ilmiah. Untuk mewujudkan hal ini, lembaga pencetak profesi guru seperti IKIP atau perguruan tinggi lainnya, haruslah memberi dukungan. Pada mata kuliah khusus, para calon guru harus digelontor dengan teori dan praktik menulis. Dengan praktik menulis dalam ranah dunia ilmiah, maka mereka akan terbiasa untuk menghasilkan sebuah produk tulisan yang berasal dari hasil pemikiran masing-masing.Selama ini institusi penghasil profesi guru terlalu banyak memberikan sumbangan ilmu yang lebih bersifat teoritis. Termasuk di dalamnya ilmu untuk bidang tulis-menulis, seperti halnya panduan penyusunan karya ilmiah sampai penyusunan skripsi. Semestinya tulisan-tulisan yang harus dihasilkan oleh para calon guru tadi lebih bersifat praktis, humanis, sederhana, namun dekat dengan kehidupan mereka.

Budaya Menulis

Jika seorang guru memasuki kelas, sejak awal hingga akhir pelajaran tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya menulis dan menyampaikan pesan komunikasi pendidikan menggunakan media papan tulis, rasanya ada sesuatu yang janggal. Ada hal aneh dan tidak lazim.Namun sebaliknya, jika seorang guru sejak awal hingga akhir jam pelajaran hanya berbicara, berceramah, memberikan orasi di depan kelas, tanpa sedikitpun menulis di papan tulis, rasanya biasa-biasa saja. Hal itu banyak terjadi di depan kelas.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa budaya berbicara (lesan) lebih rekat, lekat, dan dekat dengan siswa-siswi dalam proses pembelajaran. Sedangkan budaya menulis, berada setingkat atau beberapa tingkat di bawahnya. Hal itu terjadi sejak guru mengajar di bangku TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Mereka memberikan contoh pembelajaran yang akhirnya membudaya, lebih banyak berbicara dari pada menulis.Kebiasaan itu akhirnya menjadi sebuah budaya di wajah pendidikan kita. Orang lebih banyak berbicara, dari pada menulis. Efeknya orang tidak (terlalu suka) membaca. Apalagi bacaan yang agak berat seperti halnya bacaan buku berisi ilmu pengetahuan ataupun artikel tentang suatu permasalahan dalam kehidupan di masyarakat.

Secara tidak sengaja para guru dan para dosen mengajarkan kepada siwa-siswi dan mahasiswanya untuk lebih banyak berbicara dari pada menulis. Maka dunia menulis – dalam pengertian menulis artikel atau tulisan mengandung muatan ilmiah, menjadi demikian jauh. Karena jauh, dianggap sesuatu yang asing, sulit, dan tidak disukai.Untuk mengembalikan sesuatu yang “jauh” tadi, maka harus dilakukan upaya pendekatan-pendekatan. Tidak perlu untuk saling menyalahkan, tidak perlu malu-malu mengakui kekurangan ini. Secara sistematis di semua lini dan jenjang pendidikan harus ditekankan tentang pentingnya siswa-siswi hingga mahasiswa-mahasiswi untuk suka dan terbiasa menulis. Jika sedang TK atau SD sudah terbiasa menulis sesuatu yang nyata di sekitarnya, maka jenjang berikutnya tinggal menyempurnakan. Kebiasaan menulis ini harus lebih ditingkatkan bobot dan frekuensinya di bangku SMA/SMK dan Perguruan Tinggi.Sudah saatnya Dinas Pendidikan Pusat meluncurkan suatu kebijakan baru, agar lembaga pendidikan penghasil guru seperti IKIP dan lembaga pendidikan lainnya menambah jatah ilmu praktis tentang teknis menulis suatu karya ilmiah yang sederhana, mudah dilakukan, tanpa meninggalkan bobot ataupun mutu. Sudah sepatutnya pelajaran menulis suatu karya tulis berbasis ilmu pengetahuan atau karya ilmiah dibiasakan sejak dini. Hal ini akan menjadi suatu kebiasaan yang secara tidak disengaja menjadi rutinitas positif.

BIODATA

1.Nama : Ganjar Triadi Budi Kusuma, S.Pd

2.Tempat,tgl.lahir : Bandung, 18 April l964

3.Pendidikan : FIPS – UNNES

4.Pekerjaan : PNS (Guru SMKN 2 Semarang)

Posted in: 1